Ditulis pada tanggal 10 Desember 2014, oleh admin, pada kategori Artikel Kesehatan

New Picture (4)

Konsumsi cabe rawit di Indonesia adalah 939,1 gram per kapita per hari atau hampir 1 kg per orang per hari. Hal ini menunjukkan bahwa rata-rata orang Indonesia menyukai makanan pedas. Setiap kali makan, olahan cabe seperti sambal, sering menjadi tambahan yang harus tersedia. Apalagi akhir-akhir ini rumah makan yang menawarkan menu-menu ekstra pedas, tidak pernah sepi pengunjung dan sedang menjadi tren.

Indra pengecap kita terbagi atas 4 daerah yang peka terhadap rasa yang berbedbeda yaitu manis, pahit, asin dan masam. Rasa pedas sendiri sebenarnya tidak memiliki proporsi tersendiri di indra pengecap kita. Sensasi pedas berasal dari zat kimia bernama capsaicin. Capsaicin merupakan kandungan yang secara alami ditemukan pada keluarga tanaman capsicum. Keluarga capsicum yang sering kita temui yaitu cabe rawit, cabe besar, paprika, dan lain-lain. Kandungan capsaicin tertinggi terdapat pada bagian biji yang menempel pada bagian dalam buah. Kadarnya berbeda tergantung varietas tanamannya.

Seseorang yang memang gemar makan makanan pedas merasa lebih puas jika makanannya diberi banyak cabe. Perasaan ini sebenarnya dikarenakan adanya reaksi dari reseptor rasa sakit di lidah kita karena capsaicin.  The College of Agriculture and Life Sciences di Cornell University menjelaskan  bahwa reaksi ini mendorong dikeluarkannya hormon endorfin yang menimbulkan sensasi bahagia seperti pada orang yang berolahraga. Perasaan ini juga mungkin berperan dalam penghilang rasa sakit yang alami, jika Anda menderita rasa sakit di tubuh.

Capsaicin akan menimbulkan efek yang disebut termogenik. Efek tersebut membuat cadangan energi kimia di dalam sel tubuh diubah menjadi energi panas. Mekanisme yang menyebabkan kita berkeringat, detak jantung semakin cepat dan terkadang hidung berair ini terjadi karena meningkatnya metabolisme tubuh oleh hormon epinefrin dan norepinefrin. Berdasarkan penelitian oleh Toshio Moritani, Phd , tambahan 3 mg capsaicin pada wanita hanya membantu membakar tambahan energy sebanyak 10-20 kalori. Kandungan capsaicin pada keluarga tanaman capsicum sendiri hanya berkisar 0,2-13 mg per 100 gr. Sehingga dapat disimpulkan bahwa tambahan energy yang dibakar pun sebenarnya cukup rendah.

Salah satu sumber rasa pedas yang sering kita jumpai adalah cabe rawit. Sebenarnya, menambahkan beberapa biji cabe dalam makanan misalnya, tidak akan menambah kandungan total energi pada makanan  Anda secara drastis. Justru dengan menambahkan 1-2 sendok makan cabe rawit, kebutuhan vitamin A harian anda sudah terpenuhi, demikian juga seperlima dari kebutuhan vitamin C harian. Selain itu Kalium yang disumbangkan juga akan setara dengan 2 buah pisang hijau.

Pedas bukan tidak mungkin justru meningkatkan asupan energi Anda. Sebuah penelitian dengan hewan coba menunjukkan adanya kecenderungan mengonsumsi minuman manis lebih tinggi pada kelompok hewan coba yang diberi capsaicin. Hal ini diduga karena berkurangnya kemampuan sensoris rasa manis pada hewan coba tersebut. Minuman manis dengan kandungan gula pasir yang tinggi memang lebih efektif dalam meredakan pedas namun sumbangan energi yang diberikan juga tinggi. Hal ini tentunya akan menggagalkan usaha Anda dalam menambah pembakaran energi. Jadi, gunakanlah air putih yang tidak menyumbangkan energi, untuk meredakan rasa pedas.

Bagi mereka yang tidak terbiasa makan pedas, menurut beberapa penelitian, tambahan rasa pedas memang dapat menekan hormone ghrelin yang menimbulkan nafsu makan. Sebuah penelitian lain yang membandingkan antara kelompok pengguna dan non pengguna, menunjukkan bahwa kelompok non pengguna memang berkurang asupan energi dan nafsu makannya namun tidak pada pengguna. Hal ini menunjukkan bahwa pengaruh tersebut berkurang pada orang yang sudah terbiasa makan pedas. Itulah mengapa pada orang penyuka pedas, porsi makan tidak berkurang karena pedas, bahkan mungkin justru bertambah. Lalu sampai dosis berapakah pedas dapat membantu kita menurunkan nafsu makan? Pertanyaan itu sampai sekarang masih diteliti, karena toleransi pencernaan seseorang oleh pedas pun berbeda.

Sebagian orang baik-baik saja walaupun makan banyak cabe, dan sebagian lagi mengalami efek-efek karena kurangnya toleransi seperti sebah, perut yang panas, diare dan kambuhnya gastritis. Mitos yang beredar adalah makan pedas dapat menyebabkan iritasi lambung dan usus. Penelitian menunjukkan bahwa, walaupun mengiritasi lambung dan usus, makanan pedas bukanlah penyebabnya. Perkembangan penyakit ini tidak pernah berkorelasi langsung dengan makanan pedas.

Sukses tidaknya program diet Anda sebenarnya lebih tergantung pada pengaturan pola makan dan olahraga yang sesuai. Jika Anda menyukai makanan pedas, nikmatilah dan tidak perlu menyiksa diri karena melakukannya tidak akan mengecilkan ukuran pakaian Anda dengan drastis ataupun menggagalkan usaha peningkatan berat badan Anda. Efeknya memang kecil namun jika dapat dengan mudah dimasukkan, bahkan menjadi perubahan yang menyenangkan pada pola makan sehat Anda, digabungkan dengan perubahan-perubahan kecil dan mudah lainnya, bersama-sama mereka akan menghemat asupan energi Anda (acip).

Penulis : Anindita C.I.P. , S.Gz., Dietisien (Ahli Gizi Poliklinik UB)
Editor : Aulia Riska Iastika, S.Gz